Oleh: estileoni74 | Oktober 30, 2008

Tuhan uji kesabaran saya….

Tuhan sudah menguji kesabaran saya, entah sampai kapan Tuhan akan menguji saya… karena begitu banyak tekanan dan sakit hati yang sudah Tuhan limpahkan kepada saya.

Selama ini saya tidak pernah merasakan hamil, bahkan sampai melahirkan seorang bayi. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana jika saya menjadi seorang ibu, apakah saya bisa mendidik anak saya nanti kelak menjadi anak yang baik dan hormat kepada saya sebagai ibunya. Karena saya menjadi seorang anak selalu saja membuat orang tua saya perempuan meneteskan airmata hingga tak terhitung banyaknya.

Namun, Tuhan sudah kasih seorang anak kepada saya, meskipun bukan anak kandung saya, tetapi saya selalu berpikir inilah titipan dari Tuhan buat saya. Karena datangnya anak itu juga saya tidak pernah duga sebelumnya. Ketika saya bersama anak itu, saya merasa risih dengan sifat manja (padahal dia cowok). Saya lalu berpikir, apa yang harus saya lakukan? Sedangkan orang tua dia memang memanjakan dia, bahkan membuat dia sebagai anak cowok yang cenggeng. Sebulan pertama saya masih sabar, 2bulan, 3bulan…. sampai akhirnya habis kesabaran saya menghadapi sikap anak itu yang semakin hari semakin tidak terkendali nakalnya.

Hingga suatu ketika saya menangis, karena saya merasa anak itu sangat menyakiti saya, bahkan pengorbanan saya selama ini dilihat dia hanya sebagai kewajiban seorang orang tua kepada anaknya. Bahkan tak jarang airmata ini keluar hingga sesak rasanya dada ini. Suatu malam saya merenung, apakah ini balasan dimana saya pernah membuat ibu saya menangis? Apakah ini nantinya saya mempunyai anak? Saya lihat anak itu pada saat tidur, lalu saya berpikir….. apakah ini yang dilakukan orang tua saya pada saat menghadapi saya dulu??? Saya bisa terlelap sedangkan orang tua saya tidak bisa tidur, bahkan dalam malam yang sepi orang tua saya menangis sendiri??

Seketika saya tertunduk, Tuhan….. inilah ujian buat saya dimana saya harus menghadapi seorang anak, meskipun bukan anak kandung saya namun saya harus bisa mendidiknya agak menjadi anak yang baik. Saya renungkan semua kesalahan saya terhadap orang tua saya, saya merasakan kerinduan yang sangat hebat sekali…… Tuhan sudah menguji kesabaran saya, Tuhan sudah menguji diri saya dan Tuhan juga yang membuka mata saya lebar2….. Saya terima Tuhan… bahkan saya ikhlas menerima ini semuanya, karena saya percaya tanpa campur tangan Tuhan, saya tidak akan bertemu dengan anak itu.

Sekarang…. saya hanya bisa tersenyum Tuhan…. meskipun masih terasa perih dihati ini, saya tetap tersenyum, bahkan saya bisa belai anak itu…. saya bisa menjaga dia dengan sekuat saya. Tak jarang Tuhan, saya melihat Engkau… memohon petunjuk yang benar dan memohon dengan sangat Engkau berikan perubahan kepada anak itu.

karena saya tahu….. Tuhan menguji kesabaran saya….


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: